PEMANFAATAN TUMBUHAN BERNILAI
EKONOMIS KELOR (Moringa oleifera)
Dosen Penanggung Jawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Alamuddin Sahputra
171201011
Hut 4 A
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tanaman Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis
tanaman tropis yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman
kelor merupakan tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur
mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Kelor
dapat tumbuh pada daerah tropis dan subtropis pada semua jenis tanah dan tahan
terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan
(Mendieta-Araica et al., 2013 dalam Aminah et al., 2015).
Kandungan nilai gizi yang tinggi, khasiat
dan manfaatnya menyebabkan kelor mendapat julukan sebagai Mother’s Best Friend dan Miracle
Tree. Namun, di Indonesia sendiri pemanfaatan kelor masih belum banyak
diketahui, umumnya hanya dikenal sebagai salah satu menu sayuran. Selain dikonsumsi
langsung dalam bentuk segar, kelor juga dapat diolah menjadi bentuk tepung atau
powder yang dapat digunakan sebgai pada berbagai produk pangan, seperti pada olahan
pudding, cake, nugget, biscuit, cracker serta olahan lainnya. Selain itu
tanaman ini juga bermanfaat dalam memperbaiki lingkungan, terutama berfungsi
untuk memperbaiki kualitas air (Aminah et al., 2015).
Kelor (Moringa aloifera Lamk) diyakini
berasal dari India
dan Arab kemudian menyebar di
berbagai wilayah. Di berbagai komunitas di daerah tropis kelor dimanfaatkan
untuk berbagai penggunaan seperti pengobatan tradisional, tanaman pagar
disinfek- tan, pelumas dan
kosmetik. Tanaman kelor merupakan perdu dengan ketinggian sampai 10 m,
berbatang lunak dan
rapuh dengan daun yang
sebesar ujung jari berbentuk
bulat telur dan
tersusun majemuk. Berbunga sepanjang tahun berwarna putih, buah
bersisi segitiga dengan panjang sekitar
30 cm, tumbuh subur mulai dari dataran rendah ketinggian 700 m diatas
permukaan laut. Pada tahun pertama, kelor sudah bisa menghasilkan
biji dalam satu polong bisa diperoleh sekitar 20
biji. Produksi semakin
banyak pada tahun ke 2 dan tahun berikutnya. Apalagi
kelor menghasilkan biji sepanjang tahun.
Biji kelor mengandung 35 - 40% dari
berat kering. Kulit bijinya yang
terbuang mengandung protein cukup
tinggi, mendekati 60% sehingga cocok untuk makanan hewan ternak. (Rama Prihandana,
2008 dalam Wahyuni et al., 2013).
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.35/Menhut-II/2007
menggolongkan kelor sebagai salah satu komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
kelompok hasil tumbuhan. Disebutkan pula bahwa HHBK adalah hasil hutan hayati,
baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya, kecuali kayu
yang berasal dari hutan. Posisi tanaman kelor sebagai salah satu komoditas HHBK
menjadikan strategis untuk dikembangkan. Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang
sudah tumbuh dan berkembang di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor
merupakan tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur mulai
dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Kelor dapat
tumbuh pada daerah tropis dan subtropis pada semua jenis tanah, tahan terhadap
musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan serta mudah
dibiakkan dan tidak memerlukan perawatan yang intensif (Simbolan dan Katharina,
2007 dalam Isnan dan Nurhaedah, 2017).
1.2.
Rumusan Masalah
1. Apa nama lokal,
luar dan klasifikasi dari tumbuhan kelor?
2. Apakah manfaat
dari tumbuhan kelor?
3. Bagaimana
morfologi dan kandungan dari daun kelor?
4. Apa saja produk yang
dihasilkan dari pemanfaatan tumbuhan kelor?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui klasifikasi dari
tumbuhan kelor
2. Untuk mengetahui manfaat dari tumbuhan
kelor
3. Untuk mengetahui morfologi
maupun kandungan gizi dari tumbuhan kelor
4. Untuk mengetahui nilai
ekonomis yang dapat di hasilkan dari tumbuhan kelor
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Nama Lokal, Luar dan Klasifikasi Tumbuhan
Kelor
Di
Indonesia tanaman kelor dikenal dengan nama yang berbeda di setiap daerah, diantaranya
kelor (Jawa, Sunda, Bali, Lampung), maronggih (Madura), moltong (Flores),
keloro (Bugis), ongge (Bima), murong atau barunggai (Sumatera) dan haufo
(Timur). Kelor atau yang dikenal dengan nama Drumstick yang merupakan tanaman asli
kaki gunung Himalaya bagian barat laut India, Afrika, Arab, Asia Tenggara,
Amerika Selatan. Saat ini kelor dikenal di 82 negara dengan 210 nama yang
berbeda, diantaranya moringa, horseradish tree, drumstick, tree West Indian Ben
(Inggris), sajina (Bangladesh), mrum (Cambodia), Ben ailé (Perancis), kelor,
marunga (Indonesia), ‘ii h’um (Laos), meringgai, gemunggai, kelor (Malaysia),
dandalonbin, (Myanmar), malunggay (Philippines), marum, phakihum, makhonkom
(Thailand) dan chum ngasy (Vietnam).
Klasifikasi
tanaman kelor (Moringa oleifera)
adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Brassicales
Familia : Moringaceae
Genus : Moringa
Spesies : Moringa oleifera Lamk
2.2
Manfaat Dari Tumbuhan Kelor
Beberapa jurnal ilmiah menyebutkan tanaman kelor memiliki manfaat sebagai antibiotic, antitipanosomal,
antispasmodic, antiulkus, aktivitas hipotensif, antiinflamasi dan dapat
menurunkan kolesterol. Pada penelitian yang dilakukan di Bangladesh, ekstrak
daun kelor memberikan efek hipolipidemik dan hipekolesterol pada tikus yang
diinduks dengan adrenaline. Tanaman kelor juga memiliki kandungan fenolik yang
terbukti efektif berperan sebagai antioksidan. Efek antioksidan yang dimiliki
tanaman kelor memiliki efek yang lebih baik daripada vitamin E secara in vitro
dan menghambat peroksidasi lemak dengan cara memecah rantai peroxyl radical. Fenolik juga secara
langsung menghapus reactive oxygen
species (ROS) seperti hidroksil, superoksida dan peroksinitrit.
Kelor tidak hanya kaya akan nutrisi akan tetapi juga
memiliki sifat fungsional karena tanaman ini mempunyai khasiat dan manfaat buat
kesehatan manusia. Baik kandungan nutrisi maupun berbagai zat aktif yang
terkandung dalam tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan mahluk hidup
dan lingkungan. Oleh karena itu kelor mendapat julukan sebagai “miracle tree”.
Disamping itu. kelor sangat berpotensi digunakan dalam pangan, kosmetik dan
industri. Di beberapa wilayah di Indonesia, utamanya Indonesia bagian timur
kelor dikonsumsi sebagai salah satu menu sayuran. Di Filipina, daun kelor
sangat terkenal dikonsumsi sebagai sayuran dan dapat berfungsi meningkatkan
jumlah ASI (air susu ibu) pada ibu menyusui sehingga mendapat julukan Mother’s
Best Friend. Hal ini disebabkan karena daun kelor mengandung unsur zat gizi
mikro yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil, seperti beta (B3), kalsium, zat
besi, fosfor, magnesium, seng, vitamin C, sebagai alternatif untuk meningkatkan
status gizi ibu hamil.
Bayi
dan anak-anak pada masa pertumbuhan dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia WHO
mengkonsumsi daun kelor. Perbandingan gram, daun kelor mengandung : 7 x vitamin
C pada jeruk 4 x calcium pada susu 4 x vitamin A pada wortel 2 x protein pada
susu 3 x potasium pada pisang Organisasi ini juga menobatkan kelor sebagai
pohon ajaib setelah melakukan studi dan menemukan bahwa tumbuhan ini berjasa
sebagai penambah kesehatan berharga murah selama 40 tahun ini di negara-negara
termiskin di dunia. Pohon kelor memang tersebar luas di padang-padang Afrika,
Amerika Latin, dan Asia. National Institute of Health (NIH) pada 21 Maret 2008
mengatakan, bahwa pohon kelor “Telah digunakan sebagai obat oleh berbagai
kelompok etnis asli untuk mencegah atau mengobati lebih dari 300 jenis penyakit.
Tradisi pengobatan ayurveda India kuno menunjukkan bahwa 300 jenis penyakit
dapat diobati dengan daun moringa oleifera.
Manfaat
utama daun kelor adalah:
1. Meningkatkan
ketahanan alamiah tubuh
2. Menyegarkan mata dan otak
3. Meningkatkan metabolisme tubuh
4. Meningkatkan stuktur sel tubuh
5. Meningkatkan serum kolesterol alamiah
6. Mengurangi kerutan dan garis-garis pada
kulit
7. Meningkatkan fungsi normal hati dan
ginjal
8. Memperindah kulit
9. Meningkatkan energi
10. Memudahkan pencernaan
11.
Antioksidan
12.
Memelihara sistem imunitas tubuh
13.
Meningkatkan sistem sirkulasi yang
menyehatkan
14.
Bersifat anti-peradangan
15.
Memberi perasaan sehat secara menyeluruh
16.
Mendukung kadar gula normal tubuh
Dari hasil analisa kandungan nutrisi dapat diketahui
bahwa daun kelor memiliki potensi yang sangat baik untuk melengkapi kebutuhan
nutrisi dalam tubuh. Dengan mengonsumsi daun kelor maka keseimbangan nutrisi
dalam tubuh akan terpenuhi sehingga orang yang mengonsumsi daun kelor akan
terbantu untuk meningkatkan energi dan ketahanan tubuhnya. Selain itu, daun kelor
juga berkhasiat untuk mengatasi berbagai keluhan yang diakibatkan karena
kekurangan vitamin dan mineral seperti kekurangan vitamin A (gangguan
penglihatan), kekurangan Choline (penumpukan lemak pada liver), kekurangan
vitamin B1 (beri-beri), kekurangan vitamin B2 (kulit kering dan pecah-pecah),
kekurangan vitamin B3 (dermatitis), kekurangan vitamin C (pendarahan gusi),
kekurangan kalsium (osteoporosis), kekurangan zat besi (anemia), kekurangan
protein (rambut pecah-pecah dan gangguan pertumbuhan pada anak).
2.3
Morfologi dan Kandungan Gizi Tumbuhan Kelor
2.3.1 Morfologi
Batang berkayu (lignosus),
tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar; percabangan
simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang.
Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling, beranak daun gasal
(imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda. Buah berbentuk
panjang bersegi tiga, panjang 20 - 60 cm; buah muda berwarna hijau - setelah
tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat - berwarna coklat kehitaman, berbuah
setelah berumur 12 - 18 bulan. Akar tunggang, berwarna putih, membesar seperti
lobak.
Morfologi
daun kelor adalah berupa daun majemuk menyirip ganda 2 – 3 posisinya tersebar,
tanpa daun penumpu, atau daun penumpu telah mengalami metamorphosis sebagai
kelenjar – kelenjar pada pangkal tangkai daun. Bunga banci zigomorf, tersusun
dalam malai yang terdapat dalam ketiak daun, dasar bangun mangkuk, kelopak
terdiri atas lima daun kelopak, mahkota pun terdiri atas lima daun mahkota,
lima benang sari, bakal buah, bakal biji banyak, buahnya buah kendaga yang
membuka dengan tiga katup dengan panjang sekitar 30 cm, biji besar, bersayap,
tanpa endosperm, lembaga urus. Dari segi anatomi mempunya sifat yang khas yaitu
terdapat sel – sel mirosin dan buluh – buluh gom dalam kulit batang dan cabang.
Dalam musim – muusim tertentu dapat menggurkan daunnya (meranggas).
2.3.2 Kandungan Gizi
Daun
kelor merupakan salah satu bagian dari tanaman kelor yang telah banyak diteliti
kandungan gizi dan kegunaannya. Daun kelor sangat kaya akan nutrisi,
diantaranya kalsium, besi, protein, vitamin A, vitamin B dan vitamin C. Daun
kelor mengandung zat besi lebih tinggi daripada sayuran lainnya yaitu sebesar
17,2 mg/100 g. Selain itu, daun kelor juga mengandung berbagai macam asam
amino, antara lain asam amino yang berbentuk asam aspartat, asam glutamat,
alanin, valin, leusin, isoleusin, histidin, lisin, arginin, venilalanin,
triftopan, sistein dan methionin. Penelitian lain menyatakan bahwa menunjukkan
bahwa daun kelor mengandung vitamin C setara vitamin C dalam 7 jeruk, vitamin A
setara vitamin A pada 4 wortel. kalsium setara dengan kalsium dalam 4 gelas
susu, potassium setara dengan yang terkandung dalam 3 pisang, dan protein
setara dengan protein dalam 2 yoghurt. Selain itu telah diidentifikasi bahwa daun
kelor mengandung antioksidan tinggi dan antimikrobia. Hal ini disebabkan oleh
adanya kandungan asam askorbat, flavonoid, phenolic, dan karatenoid.
Buah
kelor berbentuk panjang dan segitiga dengan panjang sekitar 20-60 cm, berwana
hijau ketika masih muda dan berubah menjadi coklat ketika tua. Biji kelor
berbentuk bulat, ketika muda berwarna hijau terang dan berubah berwarna cokelat
kehitaman ketika polong matang dan kering dengan rata-rata berat biji berkisar
18 – 36 gram/100 biji. Buah kelor akan menghasilkan biji yang dapat dibuat
tepung atau minyak sebagai bahan baku pembuatan obat dan kosmetik bernilai
tinggi. Selain itu biji kelor dapat berfungsi sebagai koagulans dan penjernihan
air permukaan (air kolam, air sungai, air danau sampai ke air sungai).
Penelitian tentang ini sudah diawali sejak tahun 1980- an oleh Jurusan Teknik
Lingkungan ITB. Kemampuan memperbaiki kualitas air disebabkan oleh kandungan
protein yang cukup tinggi pada biji sehingga mampu berperan sebagai koagulan
terhadap partikelpartikel penyebab kekeruhan air. Konsentrasi protein dari bi
ji kelor (biji dalam kotiledon) sebesar 147.280 ppm/gram.
2.4 Produk Dari Pemanfaatan Tumbuhan Kelor
Tumbuhan kelor (Moringa
oleifera) merupakan tumbuhan yang memiliki manfaat lebih terutama di bidang
kesehatan. Dan merupakan hasil hutan bukan kayu yang mudah dalam
pembudidayaannya. Hal ini juga sudah dibuktikan melalui beragam penelitian yang
ada dimana tumbuhan ini memang mengandung zat gizi dalam jumlah yang tinggi
serta terbukti efektif dalam mengobati berbagai penyakit tertentu atau sekedar
dijadikan suplemen kesehatan. Namun, dari setiap bagian tanaman ini, daun kelor
merupakan bagian yang mengandung zat gizi paling tinggi dan juga paling banyak
pemanfaatannya. Baik di Indonesia maupun di luar negeri daun kelor sudah
dimanfaatkan sebagai suplemen maupun pengobatan dan diolah menjadi tepung kelor
untuk menambah ketahanan maupun efisiensi penggunaannya. Sehingga, produk utama
yang dapat dimanfaatkan sebagai ekonomi sumberdaya hutan dari tumbuhan ini
adalah daunnya. Dimana apabila dijadikan serbuk melalui prosedur – prosedur
yang telah ditetapkan maka dapat dijual dengan harga tinggi di pasaran. Dengan
harga jual tepung kelor berkisar antara 80 hingga 100 ribu per kg. Serta
budidaya tumbuhan ini tidak memerlukan perlakuan khusus dan cenderung cepat
untuk dapat dipanen.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Tanaman Kelor (Moringa
oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang mudah tumbuh di
daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor merupakan tanaman perdu dengan
ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai
ketinggian 700 m di atas permukaan laut.
2. Penelitian lain menyatakan bahwa menunjukkan
bahwa daun kelor mengandung vitamin C setara vitamin C dalam 7 jeruk, vitamin A
setara vitamin A pada 4 wortel. kalsium setara dengan kalsium dalam 4 gelas
susu, potassium setara dengan yang terkandung dalam 3 pisang, dan protein
setara dengan protein dalam 2 yoghurt
3. Produk utama yang dapat dimanfaatkan dari tanaman kelor adalah serbuk
daun kelor yang telah terbukti laris dipasaran
4. Tanaman
kelor terutama daunnya mengandung banyak asam amino serta memiliki khasiat
untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.
3.2 Saran
Adapun saran saya untuk
mata kuliah ini adalah ; sebaiknya para mahasiswa lebih sering bertanya maupun
mencari tahu tentang hal – hal yang telah di jelaskan oleh dosen, mahasiswa
juga harus lebih memerhatikan hal-hal yang dosen sedang jelaskan dan para
mahasiswa juga harus rajin dalam mencatat materi – materi yang dipresentasikan
oleh dosen di depan kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Aminah, et al.,
2015. Kandungan Nutrisi dan Sifat
Fungsional Tanaman Kelor (Moringa
oleifera). Buletin Pertanian. Vol 5 (2) : 1-2.
Hardiyanthi, F. 2015. Pemanfaatn
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera)
Dalam Sediaan Hand And Body Cream. Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tanaman Obat. Vol 6 (3) : 1-6
Isnan, W., dan Nurhaedah, M. 2017. Ragam Manfaat Tanaman Kelor (Moringa oleifera Lamk). Jurnal Info
Teknis Eboni Vol 14 (1) : 63 – 75.
Kelor. https://id.wikipedia.org/wiki/Kelor.
Wahyuni, et al., 2013. Uji Manfaat Daun Kelor (Moringa oleifera
Lamk) Untuk Mengobati Penyakit
Hepatitis B. STIKes Kusuma Husada Surakarta. Surakarta. Jurnal Botani. Vol 4 (3) : 1-8.

No comments:
Post a Comment