Sunday, April 7, 2019

TUGAS ESDH PEMANFAATAN TUMBUHAN BERNILAI EKONOMIS KELOR (Moringa oleifera)





PEMANFAATAN TUMBUHAN BERNILAI EKONOMIS KELOR (Moringa oleifera)

Dosen Penanggung Jawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :

Alamuddin Sahputra
171201011
Hut 4 A





 Image result for logo usu




                                                          



PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019








BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang                                 
            Tanaman Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor merupakan tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Kelor dapat tumbuh pada daerah tropis dan subtropis pada semua jenis tanah dan tahan terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan (Mendieta-Araica et al., 2013 dalam Aminah et al., 2015).
            Kandungan nilai gizi yang tinggi, khasiat dan manfaatnya menyebabkan kelor mendapat julukan sebagai Mother’s Best Friend dan Miracle Tree. Namun, di Indonesia sendiri pemanfaatan kelor masih belum banyak diketahui, umumnya hanya dikenal sebagai salah satu menu sayuran. Selain dikonsumsi langsung dalam bentuk segar, kelor juga dapat diolah menjadi bentuk tepung atau powder yang dapat digunakan sebgai pada berbagai produk pangan, seperti pada olahan pudding, cake, nugget, biscuit, cracker serta olahan lainnya. Selain itu tanaman ini juga bermanfaat dalam memperbaiki lingkungan, terutama berfungsi untuk memperbaiki kualitas air (Aminah et al., 2015).
            Kelor  (Moringa aloifera Lamk)  diyakini  berasal  dari  India  dan Arab  kemudian menyebar  di  berbagai wilayah. Di  berbagai  komunitas di daerah tropis kelor dimanfaatkan untuk berbagai penggunaan seperti pengobatan tradisional, tanaman pagar disinfek- tan,  pelumas  dan  kosmetik. Tanaman  kelor  merupakan perdu dengan ketinggian sampai 10  m,  berbatang  lunak  dan  rapuh  dengan  daun yang  sebesar ujung  jari berbentuk bulat  telur  dan  tersusun  majemuk.  Berbunga sepanjang tahun berwarna putih, buah bersisi  segitiga dengan panjang sekitar 30 cm, tumbuh subur mulai dari dataran rendah ketinggian 700 m diatas permukaan  laut. Pada  tahun pertama, kelor sudah bisa menghasilkan biji dalam satu polong bisa diperoleh sekitar  20  biji.  Produksi  semakin  banyak  pada  tahun ke 2 dan tahun berikutnya. Apalagi kelor  menghasilkan biji sepanjang tahun. Biji kelor  mengandung 35 - 40% dari berat kering. Kulit  bijinya  yang  terbuang mengandung  protein  cukup  tinggi, mendekati 60% sehingga cocok untuk makanan hewan ternak. (Rama Prihandana, 2008 dalam Wahyuni et al., 2013).
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.35/Menhut-II/2007 menggolongkan kelor sebagai salah satu komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) kelompok hasil tumbuhan. Disebutkan pula bahwa HHBK adalah hasil hutan hayati, baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya, kecuali kayu yang berasal dari hutan. Posisi tanaman kelor sebagai salah satu komoditas HHBK menjadikan strategis untuk dikembangkan. Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang sudah tumbuh dan berkembang di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor merupakan tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Kelor dapat tumbuh pada daerah tropis dan subtropis pada semua jenis tanah, tahan terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan serta mudah dibiakkan dan tidak memerlukan perawatan yang intensif (Simbolan dan Katharina, 2007 dalam Isnan dan Nurhaedah, 2017).

1.2. Rumusan Masalah
1. Apa nama lokal, luar dan klasifikasi dari tumbuhan kelor?
2. Apakah manfaat dari tumbuhan kelor?
3. Bagaimana morfologi dan kandungan dari daun kelor?
4. Apa saja produk yang dihasilkan dari pemanfaatan tumbuhan kelor?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui klasifikasi dari tumbuhan kelor
2. Untuk mengetahui manfaat dari tumbuhan kelor
3. Untuk mengetahui morfologi maupun kandungan gizi dari tumbuhan kelor
4. Untuk mengetahui nilai ekonomis yang dapat di hasilkan dari tumbuhan kelor





 BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Nama Lokal, Luar dan Klasifikasi Tumbuhan Kelor
            Di Indonesia tanaman kelor dikenal dengan nama yang berbeda di setiap daerah, diantaranya kelor (Jawa, Sunda, Bali, Lampung), maronggih (Madura), moltong (Flores), keloro (Bugis), ongge (Bima), murong atau barunggai (Sumatera) dan haufo (Timur). Kelor atau yang dikenal dengan nama Drumstick yang merupakan tanaman asli kaki gunung Himalaya bagian barat laut India, Afrika, Arab, Asia Tenggara, Amerika Selatan. Saat ini kelor dikenal di 82 negara dengan 210 nama yang berbeda, diantaranya moringa, horseradish tree, drumstick, tree West Indian Ben (Inggris), sajina (Bangladesh), mrum (Cambodia), Ben ailĂ© (Perancis), kelor, marunga (Indonesia), ‘ii h’um (Laos), meringgai, gemunggai, kelor (Malaysia), dandalonbin, (Myanmar), malunggay (Philippines), marum, phakihum, makhonkom (Thailand) dan chum ngasy (Vietnam).
            Klasifikasi tanaman kelor (Moringa oleifera) adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Brassicales
Familia            : Moringaceae
Genus              : Moringa
Spesies            : Moringa oleifera Lamk
     
2.2 Manfaat Dari Tumbuhan Kelor
Beberapa jurnal ilmiah menyebutkan tanaman  kelor memiliki  manfaat sebagai antibiotic, antitipanosomal, antispasmodic, antiulkus, aktivitas hipotensif, antiinflamasi dan dapat menurunkan kolesterol. Pada penelitian yang dilakukan di Bangladesh, ekstrak daun kelor memberikan efek hipolipidemik dan hipekolesterol pada tikus yang diinduks dengan adrenaline. Tanaman kelor juga memiliki kandungan fenolik yang terbukti efektif berperan sebagai antioksidan. Efek antioksidan yang dimiliki tanaman kelor memiliki efek yang lebih baik daripada vitamin E secara in vitro dan menghambat peroksidasi lemak dengan cara memecah rantai peroxyl radical. Fenolik juga secara langsung menghapus reactive oxygen species (ROS) seperti hidroksil, superoksida dan peroksinitrit.
Kelor tidak hanya kaya akan nutrisi akan tetapi juga memiliki sifat fungsional karena tanaman ini mempunyai khasiat dan manfaat buat kesehatan manusia. Baik kandungan nutrisi maupun berbagai zat aktif yang terkandung dalam tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan mahluk hidup dan lingkungan. Oleh karena itu kelor mendapat julukan sebagai “miracle tree”. Disamping itu. kelor sangat berpotensi digunakan dalam pangan, kosmetik dan industri. Di beberapa wilayah di Indonesia, utamanya Indonesia bagian timur kelor dikonsumsi sebagai salah satu menu sayuran. Di Filipina, daun kelor sangat terkenal dikonsumsi sebagai sayuran dan dapat berfungsi meningkatkan jumlah ASI (air susu ibu) pada ibu menyusui sehingga mendapat julukan Mother’s Best Friend. Hal ini disebabkan karena daun kelor mengandung unsur zat gizi mikro yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil, seperti beta (B3), kalsium, zat besi, fosfor, magnesium, seng, vitamin C, sebagai alternatif untuk meningkatkan status gizi ibu hamil. 
Bayi dan anak-anak pada masa pertumbuhan dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengkonsumsi daun kelor. Perbandingan gram, daun kelor mengandung : 7 x vitamin C pada jeruk 4 x calcium pada susu 4 x vitamin A pada wortel 2 x protein pada susu 3 x potasium pada pisang Organisasi ini juga menobatkan kelor sebagai pohon ajaib setelah melakukan studi dan menemukan bahwa tumbuhan ini berjasa sebagai penambah kesehatan berharga murah selama 40 tahun ini di negara-negara termiskin di dunia. Pohon kelor memang tersebar luas di padang-padang Afrika, Amerika Latin, dan Asia. National Institute of Health (NIH) pada 21 Maret 2008 mengatakan, bahwa pohon kelor “Telah digunakan sebagai obat oleh berbagai kelompok etnis asli untuk mencegah atau mengobati lebih dari 300 jenis penyakit. Tradisi pengobatan ayurveda India kuno menunjukkan bahwa 300 jenis penyakit dapat diobati dengan daun moringa oleifera.
     Manfaat utama daun kelor adalah:
1.   Meningkatkan ketahanan alamiah tubuh
2.   Menyegarkan mata dan otak
3.   Meningkatkan metabolisme tubuh
4.   Meningkatkan stuktur sel tubuh
5.   Meningkatkan serum kolesterol alamiah
6.   Mengurangi kerutan dan garis-garis pada kulit
7.   Meningkatkan fungsi normal hati dan ginjal
8.   Memperindah kulit
9.    Meningkatkan energi
10. Memudahkan pencernaan
11.  Antioksidan
12.  Memelihara sistem imunitas tubuh
13.  Meningkatkan sistem sirkulasi yang menyehatkan
14.  Bersifat anti-peradangan
15.  Memberi perasaan sehat secara menyeluruh
16.  Mendukung kadar gula normal tubuh
Dari hasil analisa kandungan nutrisi dapat diketahui bahwa daun kelor memiliki potensi yang sangat baik untuk melengkapi kebutuhan nutrisi dalam tubuh. Dengan mengonsumsi daun kelor maka keseimbangan nutrisi dalam tubuh akan terpenuhi sehingga orang yang mengonsumsi daun kelor akan terbantu untuk meningkatkan energi dan ketahanan tubuhnya. Selain itu, daun kelor juga berkhasiat untuk mengatasi berbagai keluhan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin dan mineral seperti kekurangan vitamin A (gangguan penglihatan), kekurangan Choline (penumpukan lemak pada liver), kekurangan vitamin B1 (beri-beri), kekurangan vitamin B2 (kulit kering dan pecah-pecah), kekurangan vitamin B3 (dermatitis), kekurangan vitamin C (pendarahan gusi), kekurangan kalsium (osteoporosis), kekurangan zat besi (anemia), kekurangan protein (rambut pecah-pecah dan gangguan pertumbuhan pada anak).
  
2.3 Morfologi dan Kandungan Gizi Tumbuhan Kelor
2.3.1 Morfologi
            Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar; percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling, beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda. Buah berbentuk panjang bersegi tiga, panjang 20 - 60 cm; buah muda berwarna hijau - setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat - berwarna coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12 - 18 bulan. Akar tunggang, berwarna putih, membesar seperti lobak.
            Morfologi daun kelor adalah berupa daun majemuk menyirip ganda 2 – 3 posisinya tersebar, tanpa daun penumpu, atau daun penumpu telah mengalami metamorphosis sebagai kelenjar – kelenjar pada pangkal tangkai daun. Bunga banci zigomorf, tersusun dalam malai yang terdapat dalam ketiak daun, dasar bangun mangkuk, kelopak terdiri atas lima daun kelopak, mahkota pun terdiri atas lima daun mahkota, lima benang sari, bakal buah, bakal biji banyak, buahnya buah kendaga yang membuka dengan tiga katup dengan panjang sekitar 30 cm, biji besar, bersayap, tanpa endosperm, lembaga urus. Dari segi anatomi mempunya sifat yang khas yaitu terdapat sel – sel mirosin dan buluh – buluh gom dalam kulit batang dan cabang. Dalam musim – muusim tertentu dapat menggurkan daunnya (meranggas).

2.3.2 Kandungan Gizi
Daun kelor merupakan salah satu bagian dari tanaman kelor yang telah banyak diteliti kandungan gizi dan kegunaannya. Daun kelor sangat kaya akan nutrisi, diantaranya kalsium, besi, protein, vitamin A, vitamin B dan vitamin C. Daun kelor mengandung zat besi lebih tinggi daripada sayuran lainnya yaitu sebesar 17,2 mg/100 g. Selain itu, daun kelor juga mengandung berbagai macam asam amino, antara lain asam amino yang berbentuk asam aspartat, asam glutamat, alanin, valin, leusin, isoleusin, histidin, lisin, arginin, venilalanin, triftopan, sistein dan methionin. Penelitian lain menyatakan bahwa menunjukkan bahwa daun kelor mengandung vitamin C setara vitamin C dalam 7 jeruk, vitamin A setara vitamin A pada 4 wortel. kalsium setara dengan kalsium dalam 4 gelas susu, potassium setara dengan yang terkandung dalam 3 pisang, dan protein setara dengan protein dalam 2 yoghurt. Selain itu telah diidentifikasi bahwa daun kelor mengandung antioksidan tinggi dan antimikrobia. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan asam askorbat, flavonoid, phenolic, dan karatenoid.
Buah kelor berbentuk panjang dan segitiga dengan panjang sekitar 20-60 cm, berwana hijau ketika masih muda dan berubah menjadi coklat ketika tua. Biji kelor berbentuk bulat, ketika muda berwarna hijau terang dan berubah berwarna cokelat kehitaman ketika polong matang dan kering dengan rata-rata berat biji berkisar 18 – 36 gram/100 biji. Buah kelor akan menghasilkan biji yang dapat dibuat tepung atau minyak sebagai bahan baku pembuatan obat dan kosmetik bernilai tinggi. Selain itu biji kelor dapat berfungsi sebagai koagulans dan penjernihan air permukaan (air kolam, air sungai, air danau sampai ke air sungai). Penelitian tentang ini sudah diawali sejak tahun 1980- an oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB. Kemampuan memperbaiki kualitas air disebabkan oleh kandungan protein yang cukup tinggi pada biji sehingga mampu berperan sebagai koagulan terhadap partikelpartikel penyebab kekeruhan air. Konsentrasi protein dari bi ji kelor (biji dalam kotiledon) sebesar 147.280 ppm/gram.

2.4 Produk Dari Pemanfaatan Tumbuhan Kelor
            Tumbuhan kelor (Moringa oleifera) merupakan tumbuhan yang memiliki manfaat lebih terutama di bidang kesehatan. Dan merupakan hasil hutan bukan kayu yang mudah dalam pembudidayaannya. Hal ini juga sudah dibuktikan melalui beragam penelitian yang ada dimana tumbuhan ini memang mengandung zat gizi dalam jumlah yang tinggi serta terbukti efektif dalam mengobati berbagai penyakit tertentu atau sekedar dijadikan suplemen kesehatan. Namun, dari setiap bagian tanaman ini, daun kelor merupakan bagian yang mengandung zat gizi paling tinggi dan juga paling banyak pemanfaatannya. Baik di Indonesia maupun di luar negeri daun kelor sudah dimanfaatkan sebagai suplemen maupun pengobatan dan diolah menjadi tepung kelor untuk menambah ketahanan maupun efisiensi penggunaannya. Sehingga, produk utama yang dapat dimanfaatkan sebagai ekonomi sumberdaya hutan dari tumbuhan ini adalah daunnya. Dimana apabila dijadikan serbuk melalui prosedur – prosedur yang telah ditetapkan maka dapat dijual dengan harga tinggi di pasaran. Dengan harga jual tepung kelor berkisar antara 80 hingga 100 ribu per kg. Serta budidaya tumbuhan ini tidak memerlukan perlakuan khusus dan cenderung cepat untuk dapat dipanen.
           


 BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.   Tanaman Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor merupakan tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut.
2.  Penelitian lain menyatakan bahwa menunjukkan bahwa daun kelor mengandung vitamin C setara vitamin C dalam 7 jeruk, vitamin A setara vitamin A pada 4 wortel. kalsium setara dengan kalsium dalam 4 gelas susu, potassium setara dengan yang terkandung dalam 3 pisang, dan protein setara dengan protein dalam 2 yoghurt
3.  Produk utama yang dapat dimanfaatkan dari tanaman kelor adalah serbuk daun kelor yang telah terbukti laris dipasaran
4.  Tanaman kelor terutama daunnya mengandung banyak asam amino serta memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

3.2 Saran
Adapun saran saya untuk mata kuliah ini adalah ; sebaiknya para mahasiswa lebih sering bertanya maupun mencari tahu tentang hal – hal yang telah di jelaskan oleh dosen, mahasiswa juga harus lebih memerhatikan hal-hal yang dosen sedang jelaskan dan para mahasiswa juga harus rajin dalam mencatat materi – materi yang dipresentasikan oleh dosen di depan kelas.







 DAFTAR PUSTAKA


Aminah, et al., 2015. Kandungan Nutrisi dan Sifat Fungsional Tanaman Kelor (Moringa oleifera).                 Buletin Pertanian. Vol 5 (2) : 1-2.

Hardiyanthi, F. 2015. Pemanfaatn Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera)
             Dalam Sediaan Hand And Body Cream. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tanaman Obat. Vol 6 (3) : 1-6

Isnan, W., dan Nurhaedah, M. 2017. Ragam Manfaat Tanaman Kelor (Moringa oleifera Lamk). Jurnal Info Teknis Eboni Vol 14 (1) : 63 – 75.

Kelor. https://id.wikipedia.org/wiki/Kelor.

Wahyuni, et al., 2013. Uji Manfaat Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk) Untuk Mengobati Penyakit Hepatitis B. STIKes Kusuma Husada Surakarta. Surakarta. Jurnal Botani. Vol 4 (3) : 1-8.









No comments:

Post a Comment

TUGAS ESDH PEMANFAATAN TUMBUHAN BERNILAI EKONOMIS KELOR (Moringa oleifera)

PEMANFAATAN TUMBUHAN BERNILAI EKONOMIS KELOR  ( Moringa oleifera ) Dosen Pe nanggung J awab : Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.S...